"Kembali Juang Saat Demokrasi Kian Hilang"

 

    Oleh : Hadad Fauzi Musthofa

Masalah politik, orang malas membahasnya antipati sudah. Padahal hal-hal terkecil dihidup kita secara tidak langsung di bawah pengaturannya. tidak kurang para ahli ilmu, dibidang politik terutama tapi apalah daya, bukan seutuhnya berharap terhadap ahli politik tapi setidaknya ruang-ruang tertentu dalam proses pemerintahan diduduki oleh orang-orang yang berkompeten, bukan malah sebaliknya. 

Akhirnya begini-begini saja, demokrasi tidak berjalan seutuhnya, malahan korupsi menjalar di mana-mana imbasnya biaya hidup mahal, bukankah itu sumber pokok utama dalam hidup untuk senantiasa bernafas seutuhnya. 

Sebagai rakyat kecil, berpikir waras amatlah sulit, bertolak belakang dari aslinya jika melihat keadaan seperti sekarang ini namun bagaimana lagi, suara kita kecil, sebab mereka tidak mendengar, maklum saja tembok-tembok kantor mereka tinggi nan besar sulit untuk dijangkau. 

Padahal, menurut dasar demokrasi hakikatnya keputusan paling tinggi dalam hal urusan dan pemerintahan negeri ada pada rakyat dengan perantara badan perwakilannya (Menuju Indonesia Merdeka. Moh Hatta). Coba tanyakan sekaligus renungkan, apakah sudah terwakilkan, jawabannya pasti belum. Mereka berbicara dengan lantang kita berdemokrasi, demokrasi yang mana, padahal demokrasi sesungguhnya ialah pemerintahan rakyat. 

Permasalahan bangsa kita bersumber dari pemerintah kita sendiri. Kedudukan yang sakral, aturan-aturan yang menjungjung tinggi nilai baik, kekayaan yang amat banyak, keadilan, serta sikap amanah tinggallah ampas belaka. 

Acara tahunan yang suci, sebagai pilar demokrasi hanyalah pesta, penghamburan uang negara, mengobral janji-janji, membual serta rela berbuat kotor sekaligus mengotori demi kekuasaan. Rakyat sudah muak akan itu.

Meraka tidak merasa bertanggung jawab atas prilakunya atau apalah sekedar bersikap malu saja mereka enggan, bahkan malah selalu memaksa atas pembenaran yang salah.

Ambilah suatu contoh besar, penegak hukum melanggar hukum, memutar hukum, menjual belikan hukum, korupsi dan lain-lain. Akhirnya banyak orang dikecewakan. Sungguh salah besar. 

Jika demkian, perlulah kita terapkan solusi menurut Mochtar Lubis, "Usahakanlah agar anggota-anggota DPR, MPR dan DPRD terdiri dari tokoh-tokoh terbaik dalam masyarakat, yang berpengetahuan cukup, memiliki dedikasi untuk berorientasi pada rakyat, berintegritas pribadi yang teguh, bersifat kreatif, punya rasa tanggung jawab yang besar mengenai kesalamatan bangsa dan tanah air kita, bukankah peran mereka amatlah pentingnya bagi perkembangan bangsa dan negara kita" (Bangsa Indonesia, Mochtar Lubis).

Entah ke depan seperti apa, apa kita hanya cukup mengada saja, yang jelas kita tidak boleh tidak untuk diam, acuh, hanya ikut dipinggiran sejarah tidak masuk sebagai pelaku sejarah, boleh jadi sebab membaca, menulis, dan berdiskusi seperti ini, hal-hal baik sedang kita tanamkan untuk diri kita dan anak-anak kita nanti. 

Tiada yang pantas jika bukan kita yang mempersiapkan diri demi kebaikan bangsa kita sendiri, sedari sekarang bertemu dengan orang-orang yang mampu diajak berdiskusi dengan sehat, membaca banyak buku serta dengan mengorientasikannya meski dihal terkecil dalam lingkup keluarga maupun pertemanan adalah sumber power utama sebagai pengkaderan penerus bangsa yang lebih baik lagi, semoga. 

Rabu, 28 Oktober 2026





Penulis : Hadad Fauzi Musthofa, S. Pd


Pria kelahiran Cirebon, 04 Maret 2001 ini menyukai jus alpukat, kesehariannya ia masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Membaca, bersepeda dan mengunjungi kota-kota adalah sesuatu yang dia sukai. Pendidikan S1 ia tamatkan di salah satu Kampus di Cirebon yakni IPEBA (Institut Pesantren Babakan Cirebon) dan bermanfaat untuk sesama adalah sekian dari moto hidupnya.