HEADLINE: Singgung Abraham Lincoln, Budiman Sudjatmiko Sebut Langkah Prabowo Angkat Rocky Gerung Jadi Wantimpres sebagai ‘Tugas Sejarah’
JAKARTA — Keputusan Presiden Prabowo Subianto yang menarik pengamat politik sekaligus akademisi Rocky Gerung ke dalam lingkaran Istana sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) memicu gelombang diskusi di ruang publik. Menanggapi dinamika tersebut, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, memberikan sikap dan pandangan filosofis yang tegas terkait arah baru kepemimpinan nasional ini.
Dalam sebuah video yang beredar luas di tengah masyarakat, mantan aktivis reformasi 1998 tersebut menilai bahwa kehadiran figur pemikir seperti Rocky Gerung di jajaran penasihat presiden merupakan langkah krusial bagi masa depan bangsa. Budiman memandang, mengelola sebuah negara besar seperti Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan administratif atau teknokratis semata, melainkan membutuhkan fondasi berpikir yang mendalam.
Guna memperkuat argumennya, Budiman mengutip pesan historis dari salah satu presiden paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat, Abraham Lincoln.
"Abraham Lincoln pernah berkata, 'Falsafah hidup yang diajarkan di ruang-ruang kelas sebuah generasi akan jadi falsafahnya pemerintahan mendatang'," ujar Budiman, menekankan pentingnya dialektika pemikiran yang teoritis untuk diwujudkan dalam dunia kebijakan nyata.
Menurut Budiman, kutipan legendaris tersebut relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Indonesia, lanjutnya, adalah sebuah negara yang lahir dari imajinasi gagasan para pendiri bangsa yang juga merupakan para pemikir besar. Oleh sebab itu, jalannya pemerintahan membutuhkan jembatan yang kokoh antara gagasan besar kebangsaan dan eksekusi kebijakan di lapangan.
Budiman kemudian memuji kejelian Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya memahami esensi penting dari kehadiran seorang filsuf di balik kemudi kekuasaan. Ia menegaskan bahwa setiap pemimpin yang sadar akan tanggung jawab ideologisnya di lembaran sejarah pasti akan menempatkan pemikir-pemikir kritis di dekatnya.
"Tiap pemimpin yang paham tugas-tugas sejarahnya mengangkat filosof sebagai penasihatnya. Bahkan, filosof sendiri harus jadi pemimpin, atau setidaknya pemimpin harus punya kapasitas sebagai filosof. Pak Prabowo sedang mengerjakan salah satunya," lanjut Budiman dengan nada optimistis.
Bagi Budiman, keberadaan Rocky Gerung di Wantimpres yang selama ini dikenal luas sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap jalannya pemerintahan bukanlah sebuah upaya untuk membungkam nalar kritis. Sebaliknya, ia melihat independensi nalar yang dimiliki Rocky justru menjadi aset berharga agar kebijakan negara di masa mendatang memiliki daya uji yang kuat dari sudut pandang etis maupun konseptual.
Langkah strategis ini dinilai menjadi babak baru dalam konstelasi politik Indonesia. Kombinasi antara kerja teknokrasi yang efisien dan pengawalan filsafat yang visioner diharapkan mampu membawa Indonesia keluar dari jebakan asumsi-asumsi pragmatis, sekaligus melahirkan arah kebijakan jangka panjang yang lebih inklusif dan matang bagi kesejahteraan rakyat.

Join the conversation