Pemuda NU Hari Ini, Penentu Arah Indonesia Esok: Ansor Krangkeng Satukan Perspektif Pemerintah dan Akademisi
Pemuda NU Hari Ini, Penentu Arah Indonesia Esok: Ansor Krangkeng Satukan Perspektif Pemerintah dan Akademisi
INDRAMAYU — Pemuda tidak cukup hanya menjadi generasi yang mewarisi masa depan. Mereka harus menjadi generasi yang mampu membaca zaman, menyusun gagasan, dan menentukan arah perubahan. Semangat itulah yang mengemuka dalam agenda yang digelar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Krangkeng dengan tema “Pemuda NU Digdaya, Adil dan Unggul”, di Pondok Pesantren Amanilah, Kedungwungu, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Sabtu (8/8/2026).
Agenda tersebut menghadirkan dua perspektif penting untuk melihat posisi dan tantangan pemuda NU hari ini. Sidkon Djampi, Anggota DPRD Jawa Barat, hadir membawa perspektif pemerintah dan kebijakan publik. Sementara H. Supendi, Ketua STIDKI NU Indramayu, memberikan pandangan dari perspektif akademisi dan pendidikan.
Pemuda Harus Masuk dalam Ruang Kebijakan
Dari perspektif pemerintah, Sidkon Djampi menyoroti pentingnya pemuda memahami bagaimana pembangunan dan kebijakan publik bekerja. Pemuda tidak seharusnya hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus mampu menempatkan diri sebagai subjek yang ikut menentukan arah pembangunan.
Menurut perspektif ini, persoalan yang dihadapi masyarakat harus menjadi perhatian bersama, termasuk bagi organisasi kepemudaan. Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan kedekatan dengan masyarakat yang dapat menjadi kekuatan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mengawal kepentingan publik.
Bagi kader NU, ruang tersebut terbuka luas. Organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan melakukan kegiatan sosial, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk melatih kepemimpinan, membangun jaringan, memahami persoalan masyarakat, dan mempersiapkan kader agar mampu berkontribusi dalam berbagai sektor.
Dengan demikian, pemuda NU dituntut memiliki keberanian untuk masuk ke ruang-ruang strategis, baik dalam pemerintahan, politik, ekonomi, pendidikan maupun sektor sosial kemasyarakatan, dengan tetap membawa nilai dan kepentingan masyarakat.
Pendidikan Tidak Boleh Ditinggalkan
Jika pemerintah memberikan perspektif tentang ruang pengabdian dan kebijakan, maka akademisi memberikan fondasi agar pemuda memiliki kapasitas untuk memasuki ruang tersebut.
H. Supendi, Ketua STIDKI NU Indramayu, menekankan pentingnya pendidikan sebagai instrumen utama dalam membangun kualitas generasi muda. Pemuda yang ingin mengambil peran besar di masyarakat harus memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan berpikir yang memadai.
Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses memperoleh ijazah, tetapi juga sebagai proses membangun cara berpikir. Pemuda harus mampu melihat persoalan secara kritis, memahami perbedaan, menyusun argumentasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Dalam konteks kaderisasi NU, proses tersebut menjadi semakin penting. Organisasi harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya memiliki loyalitas terhadap organisasi, tetapi juga mempunyai kapasitas intelektual dan kompetensi profesional.
Sebab, tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Perubahan teknologi, perkembangan informasi, dinamika sosial, hingga persaingan dunia kerja menuntut pemuda untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan.
Ketika Idealisme Bertemu Kapasitas
Dua perspektif yang disampaikan dalam kegiatan tersebut kemudian bertemu pada satu titik: pemuda membutuhkan keberanian sekaligus kapasitas.
Keberanian membuat pemuda berani mengambil peran, sedangkan kapasitas membuat mereka mampu menjalankan peran tersebut secara bertanggung jawab.
Inilah yang kemudian menjadi relevan dengan tema “Pemuda NU Digdaya, Adil dan Unggul.” Digdaya bukan berarti sekadar kuat secara jumlah, tetapi kuat dalam gagasan, kapasitas, jaringan, dan keberanian untuk berkontribusi.
Adil bukan sekadar sebuah slogan, tetapi sikap untuk memastikan bahwa setiap langkah yang dilakukan pemuda memberikan manfaat dan tidak meninggalkan kepentingan masyarakat.
Sedangkan unggul berarti memiliki kualitas yang memungkinkan pemuda NU mampu bersaing sekaligus tetap memiliki karakter dan nilai yang menjadi identitasnya.
Dari Krangkeng untuk Masa Depan Pemuda NU
Penyelenggaraan kegiatan di Pondok Pesantren Amanilah menjadi bagian dari ikhtiar GP Ansor PAC Krangkeng dalam memperkuat kaderisasi dan membuka ruang dialog bagi generasi muda.
Pesantren, organisasi, pemerintah, dan lembaga pendidikan memiliki ruang masing-masing dalam membentuk kualitas generasi muda. Ketika ruang-ruang tersebut dipertemukan, lahirlah proses pembelajaran yang lebih utuh: pemuda belajar memahami masyarakat, memahami kebijakan, sekaligus membangun kapasitas dirinya.
GP Ansor PAC Krangkeng berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pemantik bagi kader dan pemuda NU untuk tidak berhenti pada diskusi. Gagasan yang muncul diharapkan diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebab, menjadi pemuda NU hari ini bukan hanya tentang siapa yang akan meneruskan organisasi di masa depan. Lebih dari itu, pemuda NU adalah bagian dari generasi yang akan menentukan seperti apa wajah masyarakat dan bangsa di masa mendatang.
Dari Krangkeng, pesan itu ditegaskan: pemuda tidak boleh hanya menunggu masa depan. Pemuda harus mempersiapkan diri, mengambil peran, dan ikut menentukan masa depan.

Join the conversation