Ketika Janji Politik Berubah Jadi Omon-Omon di Indramayu

oleh : (Abdul Mufid Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Pantura)


Saya, Abdul Mufid, Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Pantura, memandang bahwa apa yang hari ini dipertontonkan oleh Bupati Indramayu bukan lagi sekadar kekeliruan komunikasi publik, melainkan bentuk nyata dari krisis kepemimpinan. Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan tidak mencerminkan empati, apalagi keberpihakan—yang ada hanyalah pengulangan janji lama yang kehilangan makna di tengah penderitaan rakyat.

Gelombang kekecewaan masyarakat yang memuncak hingga berujung pada kerusakan fasilitas publik di Alun-Alun Indramayu harus dibaca sebagai alarm keras, bukan sekadar gangguan ketertiban. Ketika rakyat turun ke jalan membawa aspirasi, namun pemimpinnya justru memilih absen, maka yang runtuh bukan hanya fasilitas dengan kerugian ratusan juta rupiah, tetapi juga legitimasi moral seorang kepala daerah.

Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu hadir sebagai representasi kegelisahan masyarakat akar rumput yang hari ini hidupnya berada di ujung ketidakpastian. Mereka bukan sekadar kelompok kepentingan, tetapi suara dari realitas yang selama ini diabaikan. Namun ironisnya, di saat mereka membutuhkan keberpihakan, pemerintah justru menunjukkan sikap yang menjauh dan tidak responsif.

Sebagai bagian dari elemen mahasiswa, saya menegaskan bahwa kami tidak akan membiarkan ruang publik dikuasai oleh narasi kosong dan kepemimpinan simbolik tanpa aksi. Kami akan terus membersamai masyarakat, mengawal setiap tuntutan, dan memastikan bahwa suara rakyat tidak berhenti sebagai gema yang hilang di lorong kekuasaan.


Sejarah mencatat, kekuasaan yang abai terhadap rakyatnya tidak pernah benar-benar kuat. Ia hanya tampak kokoh di permukaan, namun rapuh di dalam. Dan hari ini, Indramayu sedang diuji—apakah akan dipimpin dengan keberanian untuk berpihak, atau terus dibiarkan tenggelam dalam retorika tanpa makna.