Bandara Internasional Kertajati dan Tantangan Pembangunan Berkeadilan di Majalengka: Refleksi Kader PMII
Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan nasional akibat kehadiran Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Bandara ini dibangun sebagai Proyek Strategis Nasional dengan harapan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi regional, mempercepat konektivitas, serta membuka peluang kesejahteraan baru bagi masyarakat lokal. Namun dalam praktiknya, pembangunan infrastruktur berskala besar tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan sosial, ekonomi, dan kebijakan yang matang. Hal ini menjadikan Kertajati sebagai isu hangat yang layak dikaji secara kritis, khususnya dari perspektif generasi muda dan kader pergerakan.
Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), isu ini tidak hanya dipahami sebagai persoalan teknis pembangunan, tetapi juga sebagai ruang refleksi nilai keislaman, keadilan sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.
Dinamika Operasional Bandara Kertajati
Bandara Internasional Kertajati resmi beroperasi sejak 2018 dan mulai dialihkan menjadi bandara utama Jawa Barat pada 2023. Namun, hingga tahun 2025, operasional bandara ini masih menghadapi tantangan serius. Jumlah penerbangan dan penumpang belum mencapai target awal, bahkan sejumlah maskapai menghentikan rute domestik karena rendahnya tingkat keterisian penumpang. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pembangunan fisik infrastruktur dan analisis kebutuhan pasar serta kesiapan ekosistem pendukung.
The Jakarta Post mencatat bahwa rendahnya permintaan penerbangan dan lemahnya perencanaan transportasi terintegrasi menjadi faktor utama kurang optimalnya fungsi Bandara Kertajati. Situasi ini berdampak langsung pada masyarakat Majalengka yang sejak awal menaruh harapan besar terhadap hadirnya bandara sebagai sumber lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi baru.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat Majalengka
Meski operasional bandara belum maksimal, Majalengka tetap mencatat peningkatan realisasi investasi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat melaporkan bahwa nilai investasi di Kabupaten Majalengka mencapai sekitar Rp3,36 triliun pada tahun 2025. Data ini menunjukkan bahwa secara makro, wilayah Majalengka memiliki daya tarik ekonomi yang cukup kuat.
Namun demikian, pertumbuhan investasi tersebut belum sepenuhnya dirasakan merata oleh masyarakat sekitar bandara. Sebagian warga masih menghadapi keterbatasan akses kerja, sementara pelaku UMKM lokal belum seluruhnya terintegrasi dalam rantai ekonomi bandara. Pemerintah daerah mencoba menjawab persoalan ini melalui program seperti Majastore, yang bertujuan memasarkan produk UMKM lokal di lingkungan bandara sebagai bentuk afirmasi ekonomi rakyat.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari besarnya investasi atau megahnya infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan secara adil oleh masyarakat lokal.
Refleksi Kritis dari Perspektif PMII
Dalam konteks nilai-nilai PMII, persoalan Bandara Kertajati berkaitan erat dengan prinsip keadilan sosial dan keberpihakan kepada kaum mustadh‘afin. PMII memandang pembangunan sebagai sarana untuk memanusiakan manusia, bukan sekadar simbol kemajuan. Ketika pembangunan belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan, maka kritik konstruktif menjadi bagian dari tanggung jawab moral kader.
Sebagaimana pernah disampaikan oleh salah satu tokoh daerah Jawa Barat, “Kertajati tidak boleh hanya menjadi monumen beton, tetapi harus menjadi instrumen kesejahteraan rakyat.” Kutipan ini menegaskan bahwa pembangunan harus memiliki orientasi nilai, bukan hanya orientasi proyek.
Sebagai kader PMII putri, keterlibatan perempuan muda dalam isu pembangunan daerah sangat penting. Perempuan tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga subjek yang mampu menawarkan perspektif keadilan, keberlanjutan, dan empati sosial. Nilai keislaman dalam PMII mendorong sikap kritis yang berlandaskan akhlak, sementara nilai keindonesiaan menuntut kesadaran akan tanggung jawab menjaga pembangunan agar tetap berpihak pada rakyat.
Bandara Internasional Kertajati merupakan cerminan dinamika pembangunan di Indonesia: ambisi besar, potensi besar, namun juga tantangan besar. Bagi masyarakat Majalengka, bandara ini masih menjadi harapan yang terus diuji oleh realitas kebijakan dan pasar. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda untuk memastikan pembangunan berjalan secara berkeadilan dan berkelanjutan.
Kader PMII meyakini bahwa peran mahasiswa dan pemuda adalah menjaga nurani pembangunan. PMII harus hadir sebagai kekuatan moral yang tidak lelah mengawal kebijakan publik, agar pembangunan tidak kehilangan arah dan tetap berlandaskan nilai keadilan sosial, kemanusiaan, dan kemaslahatan bersama.
Daftar Pustaka
[1] The Jakarta Post, “Java Airports Grounded by Low Demand, Poor Planning,” July 11, 2025, https://www.thejakartapost.com/business/2025/07/11/java-airports-grounded-by-low-demand-poor-planning.html.
[2] Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Barat, “Realisasi Investasi Kabupaten Majalengka Tahun 2025,” January 2026, https://www.detik.com/jabar/cirebon-raya/d-8337251/majalengka-panen-investasi-rp-3-36-triliun-sepanjang-2025.
[3] Pemerintah Provinsi Jawa Barat, “Majastore Sebagai Upaya Penguatan UMKM Lokal Di Bandara Kertajati” (Bandung, Jawa Barat, 2024).

Join the conversation