Reaktualisasi Kader PMII
Oleh : Muslih Maulana (Ketua Rayon Ibnu Khaldun IPEBA Cirebon)
Sebagaimana orang dulu berkata "Cogito ergo sum" 'aku ada karena aku berpikir', atau saya balik frasa ini sebagai 'aku menulis, maka ada aku'. Terus terang saja, saya resah juga jengah, dengan pergolakan-pergolakan organisasi, seringnya kita berputar dan berkutat pada pembahasan itu-itu saja (internal), yang mana kita melewatkan kembangan yang akan mendatang, hingga kemudian terjadi polarisasi sejarah. Sehingga gerakan demikian saya sebut dengan gerakan konservatif. Dan juga bertanya-tanya, apakah Pemsebelas terus saja dengan individu yang loncatan berpikirnya ialah prestise, atau memang yang dibutuh-perlu ialah narsis-sus ?.
Saya senang sekali, malam itu salah satu senior saya di Pemsebelas bertukar Buku, yang memang dalam hal ini, saya baru tahu bahwa ada tokoh India yang begitu genuin, yang mana dalam buku tersebut menuliskan bagaimana makna Kebebasan. Tentunya, kita akan bertanya apakah kebebasan itu, sehingga musti ada ta'wilan, atau orang dermayu bilang interpretasi—Kok bisa ya, kebebasan musti ada tafsir— tentunya sebagai representasi dari tuhan dengan anugerah nalar dan rasa (manusia), musti mempertanyakan apa kait-kelindan mengenai hal-ihwal tersebut.
Dalam buku tersebut "Kebebasan adalah belajar". Belajar berarti bebas, sebab literatus (orang yang belajar) pasti menemukan sesuatu yang orang lain belum ketahui, yang orang lain tidak pahami, yang orang lain tidak mengerti, yang orang lain juga kurang minati. Disinilah letak bebas dalam arti sederhana.
Mengapa demikian ? Kebebasan dalam arti belajar ialah, bagaimana diri-pribadi tidak terjadi adanya keterikatan, baik dalam doktrin, agama, thoriqoh, ormas, pun juga organisasi. Karena, jiwa manusia berlandas pada cipta, karsa, dan rasa. Ini, mempreferensikan bahwa manusia slealu mengidam-dambakan sesuatu yang utopia. Dalam ilmu sosiologi kita (manusia) disebut sebagai mahluk sosial, yang dalam berkehidupan, kita tidak lepas dengan komunikasi, baik internal, intrapersonal, serta behavioral. Hingga kemudian, lahir alam metafisika—saya sebut dunia medcos— begitulah kira-kira.
Manusia berusaha akan dirinya agar tidak terikat, tapi, manusia yang demikian ialah manusia yang diberi daya kognitif-aktif, dalam arti ia selalu berusaha memperluas cara pandang, dan menerima sudut pandang. Dari sini kita pahami, bahwa musti kita tafsir kembali, arti dari kebebasan tersebut, sehingga kita menjadi manusia secara utuh, manusia yang teguh, tangguh dan tabah. Ini juga selaras, dengan apa yang Ki Hadjar Dewantara cita-citakan, ialah manusia merdeka.
Saya hawatir, bahwa kita berorganisasi, tapi kita malah terikat akan organisasi tersebut, hingga kemudian kita bingung dan, mengeluh-kesahkan yang menurut individu tidak ideal. Memang betul, manusia tidak lepas dari psikologis mistisme. Tapi, lebih luasnya berorganisasi adalah ketidak bebasan, inilah yang membuat saya sangat dikhawatir sekali. Saya kira, karena individu yang demikian ialah individu yang enggan belajar, individu yang oportunis, yang mana ia akan melulu mensoalkan apa yang didapat, laba-rugi dari berorganisasi. Nah, paradigma seperti inilah paradem yang menurut sukarno bukan spiritualisme, tapi materialisme. Paradigma seperti ini adalah paradigma yang akan selalu berbicara untung-rugi, yang ketika bagi dirinya tidak matter adalah salah, ini akan menjadi budaya paternalisme.
Saya melihat pola ini dari laku-sikap tiap individu Pemsebelas, wabil khusus mereka yang masyarakat urban, yang slalu laku praktis, instan dan konstan pada kejumudan. Lantas apakah Pemsebelas dari gedung hijau dan sekre yang mungil pun, begitu juga ?
Pertanyaan sederhana adalah harus adanya narasi nasion antara senior dan junior, agar kelak tidak melulu pada putaran tersebut, sebab bias logic menimbulkan falacy-falacy yang menjengahkan dan menjengkelkan, sebab dari sinilah lahir bahasa bayi.
Strateginya sederhana sekali, dengan adanya kemasifan-kemabuk-kan dalam membaca; membaca bukan tentang lembaran kertas, dan aksara semata, tetapi semesta. Karena dari membaca kita juga mengurangi habit paternalisme kultural tersebut. Dari membaca juga, akan terkikis kultur bahasa bayi. Dari membaca juga, spirit organisatoris bisa didiasporakan secara nyata. Namun, lagi dan lagi, sayang beribu sayang, kebudayaan ini hanya menjadi tempat sakral, yang orang-orang pasti akan merasa malas-culas melakukan hal tersebut.
Mungkin saya sudah agak terlalu panjang juga menulis ini, yang membuat pembaca bingung akan arah tulisan ini. Maksud saya, saya tidak mau bahwa organisasi sebagai organisasi antal-untul ; organisasi yang massa-nya hanya sibuk dengan pertikaian tidak urgen, mereka mudah sekali terbawa arus ke-fomoan, gampang sekali di provokatori, dengan narasi narasi rasional dan bahasa yang disopan-retoriskan.
Maka dengan begitu coba kita benturkan, apakah selama ini kita bebas dalam berorganisasi, atau justru organisasi malah membuat kita stagnan ? Atau bahkan kita hanya mendapat keabsurd-an dalam percakapan kita sehari-hari. Dari sinilah kita akan memahami bahwa makna belajar adalah bebas, bahwa menjadi bebas adalah belajar. Oleh yang demikian mari kita bersama-sama untuk mereaktualisasi faham-faham yang telah kita diskusikan, isme isme yang telah kita kaji bersama, agar kemudian kita tidak menjadi Pemsebelas yang antal-untul. Yang dalam teori konspirasi, negara akan mencoba bersaing demi mendapatkan artificial super intelegenci, percaya atau tidak, ini bukan animisme, namun lihatlah kelak beberapa tahun mendatang.
Bukankah, kita slalu berslogan teguh pada prinsip, setia pada proses, serta ilmu dan baktiku kuberikan ? Kalau kita tidak belajar, apa yang akan kita beri dan baktikan.
Oleh EM12
Tertuang di jambu cafe, pukul 22.00. Sen, 26 Jan 2026.
Madep ngulon,
Cirebon.

Join the conversation